Saturday, December 25, 2010

Mematikan perasaan

well, gw nggak tau udah yang ke berapa kalinya gw menulis tentang post ini karena tulisan ini adalah salah satu tulisan yang gw suka dan memiliki beberapa pengaruh untuk kepribadian gw. mungkin nggak semua orang setuju ketika membacanya, tapi pertama kali membacanya, tulisan ini bener2 ngena banget di hati gw. well, let's enjoy it :)

Mematikan perasaan, mengosongkan diri.



Ambil contoh salah satu emosi ─ cinta kepada seseorang, atau kasihan kepada orang yang kita sayangi, atau rasa takut dan nyeri akibat penyakit yang mematikan. Apabila kita menahan emosi-emosi itu ─ tidak membiarkan diri kita mengalaminya ─ kita tidak akan pernah dapat mematikan rasa, kita terlalu sibuk menghadapi rasa takut. Kita takut mengalami rasa nyeri, kita takut mengalami rasa sedih, kita takut mengalami penderitaan akibat cinta.


Tapi dengan membiarkan diri mengalami emosi-emosi ini, membiarkan diri terjun ke dalamnya, sampai sejauh-jauhnya, kita akam mengalami secara penuh & utuh. Kita tahu arti sakit. Kita tahu arti cinta. Kita tahu arti sedih. Dan hanya ketika kita mengatakan, “Baiklah. Aku telah mengalami emosi itu. Aku kenal betul emosi itu. Sekarang aku perlu mematikan perasaan dari emosi itu untuk sementara.”


Betapa sering kita perlu berbuat seperti itu dalam kehidupan sehari-hari. Betapa sering kita merasa kesepian, kadang sampai sangat ingin menangis, tetapi kita berusaha keras untuk tidak mengeluarkan air mata karena kata orang kita tidak boleh menangis. Atau betapa dahsyat rasa cinta yang kita rasakan pada seseorang tetapi kita tidak mengatakan apapun karena terbelenggu oleh rasa takut bahwa pengungkapan dengan kata-kata akan berpengaruh buruk terhadap hubungan kita.


Basuhlah diri kita dengan emosi. Kita takkan terluka karenanya. Kita malah akan terbantu. Apabila rasa takut itu kita biarkan, apabila kita menerimanya apa adanya, kita akan berkata pada diri sendiri pada akhirnya, “Sudahlah, ini hanya rasa takut. Aku tidak akan membiarkannya mengendalikanku. Aku memandang seperti apa adanya.”


Sama halnya dengan kesepian, kita membiarkannya datang, kita membiarkan diri merasakannya secara utuh ─ tapi pada akhirnya kita sanggup berkata, “Baik, begitulah rasanya ketika aku kesepian. Aku tidak takut merasa sepi, tapi sekarang aku akan menyampingkan rasa sepi itu dan sadar bahwa di dunia ini emosi-emosi lain masih ada, maka aku akan mencoba mengalami semuanya.”


- Morrie Schwartz, dalam buku “Tuesday With Morrie” –


= to be continued =
© alia's blog 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis