Wednesday, July 29, 2015

Kecewa karena Memberi



Saya suka memberi hadiah kepada beberapa orang yang saya sayangi. Orang yang disayangi itu luas ya artiannya, hehe. Tapi baru di tahun 2015 inilah saya menemui kekecewaan 2 kali berturut-turut berkenaan dengan pemberian hadiah itu.

Lho Al, kok kejadian mengecewakan malah ditulis di sini? Masih nggak ikhlas kah? Abis lebaran lho ini sistah~

Haha, iya gapapa. Mau nulis ini ceritanya supaya bisa jadi manusia lebih baik dan bisa lebih selow jika keadaan yang sama terjadi. So, here we go~

----------

Cerita 1

Sudah pernah baca postingan blog yang ini? (link)

Yes, ceritanya saya habis jalan-jalan ke luar kota dan saya sudah membeli oleh-oleh untuk orang yang (saya rasa) saya sayangi. Niat di balik oleh-oleh itu adalah untuk membagi kebahagiaan dan saya udah kangen berat sama orang tersebut.

Saya mencoba mengkontaknya. Saya katakan maksud saya ingin bertemu dan perihal oleh-oleh. Saya nyatakan padanya kapan saya bisa. Dan saya sampaikan bahwa saya bersedia menemuinya sampai ke ujung dunia (iya tahu ini lebay, hahah), atau paling tidak saya bersedia mengirimkannya lewat paket.

Tapi jawaban darinya setengah-setengah. Tak ada kepastian. Tak pernah bisa dia sisipkan sekian jam saja untuk bertemu bersama saya. Padahal saya rajin memantau blognya, dan ada beberapa pertemuan dengan orang lain yang dia abadikan di sana. Bahkan dia pergi ke suatu tempat umum, yang saya tahu saya bisa menyusulnya ke sana dan ketemu dengannya paling sekitar 15 menit untuk memberikan barang tersebut, lalu saya bisa pergi jauh membiarkannya bersenang-senang bersama teman dia memiliki janji sebelumnya.

Tak ada kata-kata apapun darinya. Hingga saya -- yang ceplas-ceplos berusaha menyampaikan apa yang ada di kepala dan hati saya -- marah padanya. Ya, saya tidak bangga, tapi saya lega bisa mengeluarkan uneg-uneg saya. 

Untungnya karena si orang ini juga sudah dekat dengan saya, dia mengerti apa yang saya utarakan. Akhirnya dia meluangkan waktu di akhir bulan untuk mengikuti suatu event dan mengajak saya ikutan. Selesai juga urusan, alhamdulillah :)

----------

Cerita 2

Hm, yang ini mungkin tidak akan diceritakan secara lengkap. Intinya adalah saya ingin memberi hadiah ke seseorang, tetapi dia menolak. Saya tetap berusaha ingin memberi karena saya sayang sama orang ini dan orangnya kini tinggal di luar negeri sehingga saya tidak tahu kapan lagi waktu terdekat bisa bertemu dengannya. Tapi dia tetap tidak menginginkannya.

Kemudian di waktu yang sangat singkat setelah dia menolak hadiah saya, dia menanyakan alamat saya karena dia ingin mengirimi hadiah.

Err, dia sebenarnya ngerti nggak ya perasaan saya? Ketika saya mau ngasih hadiah dia menolak, tapi ketika dia mau ngasih, terus dia expect saya akan bagaimana ya?

Yah, saya tahu saya sudah jadi orang menyebalkan ketika "berusaha" alias maksa mau memberi hadiah kepadanya. Apa banget gitu ada orang nggak mau kok dipaksa-paksa. Terus saya tahu saya kembali jadi orang menyebalkan dengan memilih menolak hadiahnya. Saya nggak mau dianggap jadi orang maruk di matanya. Toh dia juga sudah mencontohkan kepada saya untuk tidak sembarangan menerima pemberian dari orang lain kan :)

----------

Jadi inti dari 2 cerita itu untuk saya adalah memberi tidak selalu identik dengan kebaikan. Apalagi kalau memberi kepada orang yang sebenarnya nggak mau dan nggak butuh. Bisa nggak mau barangnya atau nggak mau ketemu kamu ya, Al, hihi.

Mungkin jadi ada tips untuk memberi dari saya, yaitu:
1. Survey dulu orangnya lagi butuh apa
2. Survey dulu orangnya mau apa nggak
3. Ikhlasin orangnya mau nerima atau nggak
4. Ikhlasin nanti barangnya dipakai buat apapun, mau dibuang, dikasih ke orang lain lagi, hilang, yowis ikhlasssss

Poin keempat penting juga buat saya karena saya kadang suka nanya ke orang barang yang saya kasih buat apa. Soalnya saya sering memberi barang yang bisa dipakai langsung, dan jadi superbahagia kalau melihat barang itu beneran dipakai. Tapi ya mestinya ikhlas biarin aja kalau akhirnya nggak ada kabar ya. Kan kalau udah diberi ke orang, otomatis barangnya jadi hak orang tersebut, suka-suka dia mau diapain aja kan, Al? Hehe..

Semangat membangun hati yang ikhlas ya, Al :))

= to be continued =


0 comments:

© alia's blog 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis