Thursday, November 20, 2014

Wish: Uang Plastik untuk Pembayaran Angkutan Umum

Hari Senin malam tanggal 17 November 2014 akan menjadi salah satu hari bersejarah. Hari di mana presiden baru kita diam-diam menyediakan kejutan kenaikan harga bbm.

Yang pada antre malam sebelum pengumuman kenaikan bbm
Gambar dari (link)

Oke, pro kontra muncul. Gw nggak masalah siapa berpendapat apa asal disampaikan dengan baik dan tidak menjatuhkan satu sama lain. Tapi yang gw suka dari momen kenaikan ini adalah tiba-tiba tanpa adanya isu sehingga kenaikannya lebih cepat daripada kenaikan barang dan jasa lainnya. Tanpa adanya isu, para produsen barang dan jasa pun bisa menaikkan dengan perhitungan yang lebih baik. Kalau udah ada isu duluan, kadang mereka naikinnya suka nggak kira-kira soalnya. Terlebih ketika bbmnya belum naik, eh harga lain udah naik seperti terakhir jaman Pak SBY dulu di bulan April tahun 2013. Gw inget banget karena suka gw pakai sebagai contoh bahan ajar di ekonomi kalo Pak SBY ngetroll April Mop, hehe. Tapi ternyata abis itu naik juga deng di bulan Juni ^^

Gambar dari (link)

Nah, sekarang harga naik udah jadi keniscayaan lah ya. Gw denger dari teman, ongkos angkot yang tadinya Rp3.000 sudah naik menjadi Rp4.000. Yang tadinya Rp4.000 naik menjadi Rp5.500. Yang kepikir di gw, wah berarti sekarang mesti rajin ngumpulin koin 500an ya. Karena kalo nggak bisa-bisa ongkosnya nggak dibalikin lagi sama abangnya *maapin kl keknya pelit haha*

Hal ini bikin gw jadi pengen usul ke pemerintah supaya bikin kartu untuk pembayaran kalau kita lagi naik kendaraan umum. Ngerasain ketika pakai kartu commet untuk bayar kereta api commuter line, atau dengar cerita orang yang pakai kartu untuk bayar transjakarta, atau bayar tol pake e-toll card rasanya jadi nyaman dan mudah.

Pasti kalian pernah kan mengalami naik taksi, terus karena argonya nanggung, pak taksinya agak maksa untuk dibayar lebih. Misal argonya Rp18.000, eh dia ngotot pengen dibayar Rp20.000. Ini bukan masalah rela nggak rela, tapi kan memang argonya tulisannya segitu dan berarti kewajiban kita membayar sesuai argo.

Lain hari pernah juga gw naik ojek yang suka mangkal deket rumah. Pas bayar, doi nggak punya kembalian. Trus doi janji mau dibayar lain hari. Eh sampe sekarang tiap kali ditanya doi kek masa bodo gitu. Sakit hati nggak sih grrr. Udah gw black list lah itu abang ojek sekarang gw nggak mau lagi ngebiarin doi nggak ngasih kembalian langsung saat itu juga.

Atau pengalaman bayar barang di mini/super/hypermarket. Dia nggak punya kembalian, eh trus gw dikasih permen. Sumpah kadang pengen kesana lagi sambil bawa permen sekantong, trus pas bayar di kasir gw bayar aja pake permen, huahahaha *muncul tanduk di kepala >:D*

Kalau bayarnya pakai kartu kan kita bisa bayar dengan nominal yang tepat dan akurat. Nggak perlu pusing mikirin uang kembalian. Tapi ya jadi mesti dipikir juga tentang mesin kartu, gimana pengurusan kartu, dan sistem keamanan di kartunya. Kalau di tempat seperti supermarket dll kan ada kartu debit dan kredit. Kalau mau bikin versi kendaraan ya mesti belajar lagi dari commuter line dan transjakarta. Mungkin lucu kali ya ngeliat abang ojek kemana-mana bawa mesin kartu haha.

Ini juga sesuai dengan keinginan Bank Indonesia untuk memunculkan yang namanya "Cash Less Society" atau transaksi tanpa uang cash. Keinginan ini mengikuti tren di Amerika di mana transaksi "uang receh" pun seperti membayar parkir, tol, dan membeli kue di pinggir jalan sudah menggunakan uang plastik -- nama lain dari kartu.


Contoh uang plastik atau electronic money
Gambar diambil dari google :D

Dari link kompas.com ini (link), David Wolman, seorang jurnalis dari Amerika, menyatakan bahwa biaya untuk transaksi menggunakan uang tunai itu mahal. Di antaranya biaya untuk memindahkan, menyimpan, mengamankan, mengawasi, memproduksi, dan meredesain. Selain itu transaksi tunai juga disukai para kriminal karena sulit dilacak. Uang tunai juga penuh kuman karena banyak berpindah tangan, dan dalam jumlah besar bisa menyulitkan penghitungan (pernah ngebayangin ngitung uang kertas dan logam satu-satu untuk jumlah 1 milyar misalnya? hehe).

Selain dalam hal kepraktisan, transaksi dengan uang plastik juga membuat pengeluaran lebih transparan dan akuntabel. Oiya ternyata Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) ini udah dimulai BI dari tahun 2010 lho. Ini juga yang membuat mulai munculnya yang namanya rekening ponsel. Kalo sering nonton di Blitz pasti udah ngeh deh sama iklan rekening ponsel dari CIMB Niaga kalo ga salah ^^

Baiklah, begitulah kira-kira usul gw. Semoga bermanfaat hehe. Semangat menikmati naiknya harga bbm ya. Insyaallah Tuhan memberikan rizki sesuai dengan haknya masing-masing :)

= to be continued =

2 comments:

bestariano said...

Kata temen gue, di Malaysia udah jarang banget pada bawa cash. Bayar apa2 pake kartu semua. Eh, gue belum punya kartu transjakarta nih haha. Lebih dari sekali gue gagal naik trans karena haltenya ga nerima cash.

Dan karena lo sebut2 soal taksi, baru aja beberapa hari lalu gue naik taksi dari area fkui salemba ke rumah gue argonya 33.000 dan abangnya minta dibayar 40.000 =___= jauh amat buletinnya. Sebelum naik bbm jarak segitu paling 20 ribuan. Taksi mahal men. Mending naik sepeda sekarang. Haha.

alia pewe said...

@bestari: wah di malaysia udah gitu ya? Iya gw juga ga punya kartu transjkt krn udah lama banget ga naik transjkt. Gw kebiasaan naik ojek nih sekarang. Padahal ojek juga mahal, mereka suka nembak harga suka2 >.<

Iya best, oke tuh naik sepeda. Siap buat bike to everywhere? xD

© alia's blog 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis